Mengelola Potensi Menggali Kontribusi Oleh: Sugih Satrio Wibowo

admin June 17, 2019 at 10:59

Mengelola adik asuh seperti berjalannya sebuah kampus, tempat belajar dari sumber ilmu. Begitulah mentor, seharusnya menjadi sumber pengetahuan bagi adik asuhnya. Tahap ini merupakan proses persiapan dari invasi ilmu pengetahuan yang bertujuan menstimulasi determinasi adik asuh. Determinasi itu seperti bahan bakar, sekali tersulut pergerakannya akan terakselerasi. Penting bagi seorang mentor untuk menganalisis tujuan dan arah gerak adik asuhnya. Lihat bagaimana dia berbicara dan berpikir, berikan asupan ilmu saat pertemuan yang kiranya bisa menyulutkan idenya. Ingat, adik asuh datang dalam pertemuan karena merasa haus. Maka, jadilah sumber air yang tak pernah habis.

Wisnutama pernah berkata dalam sebuah sesi diskusi, katanya kita harus memperlakukan karyawan seperti kita ingin diperlakukan. Saya rasa kita semua pernah mempunyai mentor bahkan sampai saat ini, dan tentu kita pernah mendapatkan treatment darinya. Pelajari lah, apakah input yang diberikan berhasil membuat kita termotivasi atau malah demotivasi. Pahami lah, bahwa ketika berhadapan dengan adik asuh maka letakan posisi pikiran pada dirinya yang ingin berkembang. Poin pentingnya adalah treatment yang tepat. Ketika berbicara treatment, ini bukan soal komunikasi personal dan kelompok saja, juga bukan hanya sekedar direksi, ini soal mendengar yang juga menjadi bagian dari treatment yang tepat.

Setelah tahap persiapan, semakin berjalannya waktu tentu saja jika hanya satu arah dalam artian hanya mendengar dan mendapatkan input, tidak akan efektif. Tingkatkan levelnya, dengan memberikan tantangan. Pada tahap awal tadi, seorang mentor sudah menganalisis potensi dan minat adik asuh, setelah diberikan asupan awal dan hasilnya positif, terlihat dari respon saat berdiskusi dan menanggapi sebuah studi kasus, maka tantang dia untuk berbuat lebih. Intruksikan agar bisa menghasilkan sebuah karya, lewat medium apapun. Sehingga pada saat pertemuan berikutnya, list of goals-nya bertambah, yaitu evaluasi karya adik asuh.

Saya masih ingat, waktu itu saya mendapat tantangan dari mentor saya untuk mengikuti pemilihan Ketua BEM Fakultas. Menariknya, saya tidak boleh berpasangan dengan teman saya yang kebetulan masih dalam lingkaran mentor yang sama. Padahal saya yakin sekali jika berpasangan dengannya, kemenangan sudah ditangan. Saya pun bertanya alasan mengapa tidak boleh, ternyata alasannya sederhana. Katanya, saya akan belajar banyak jika tidak berpasangan dengan teman saya.

Saya pun diberikan arahan untuk mencari pasangan lain. Saya benar-benar kebingungan mencari pasangan yang tepat, kebingungan juga mencari ide kreatif dalam mendongkrak suara melawan teman saya sendiri yang juga masih dalam lingkaran mentor yang sama dan dia juga mendapat tantangan untuk ikut dalam suksesi pemilihan. Saya juga kebingungan untuk menyamakan persepsi yang berbeda dengan pasangan calon wakil ketua, karena memang preferensi kami agak sedikit berbeda. Dan ternyata benar, saya belajar banyak dari sana, walaupun saya akhirnya hanya menjadi posisi kedua. Itulah kemampuan yang harus dimiliki mentor dalam membimbing adik asuh. Kemampuan memberikan masukan terhadap apa yang dibutuhkan bukan hanya yang diinginkan.

Tahapan diatas bisa disebut sebagai tahapan inkubasi, persis seperti sebuah start up dalam proses inkubasinya. Tidak hanya membuat business model saja tapi juga pengukuran idenya dilihat secara ekonomis dan juga kebermanfaatannya. Akselerator adalah kata yang tepat  dalam menggambarkan peran lainnya dari seorang mentor untuk mengelola adik asuh. Sesuai namanya, mentor berfungsi sebagai aktor yang mempercepat berjalannya proses, melihat yang terkadang tidak terlihat oleh adik asuh. Percayakan ide itu padanya, tapi jadilah seperti bagian dari timnya.

Dalam proses ini keterbukaan menjadi sangat krusial, itulah mengapa menjadi bagian dari tim begitu penting. Saya masih ingat, saat awal pembentukan komunitas Bogor Youth Impact, saya bingung setengah mati karena tidak punya haluan. Saya bertemu dengan salah seorang mentor yang membina saya dalam sebuah acara di Semarang. Entah mengapa, saya merasa dia seperti menjadi bagian dari komunitas saya padahal sejujurnya dia adalah mentor yang saya kagumi.

Kecenderungan pendekatan vertikal yang sering kita lakukan dalam sharing value sepertinya harus sedikit dirubah. Satu hal yang harus diingat, beda generasi terkadang berbeda pola pemikiran. Ini eranya generasi langgas, anak muda yang lahir menuju era millenium mendekati tahun 2000 dengan banyak perubahannya. Maka segeralah menyesuaikan pola pembinaan yang tepat karena menurut catatan Dilla Amran dari OMG Consulting yang merunut pada data BPS, terdapat 84 juta jiwa generasi millenials atau sekitar 33% dari penduduk Indonesia.

Itulah yang coba saya lakukan kepada salah satu adik asuh saya, menggunakan pendekatan sejajar dan membuatnya bisa lebih terbuka dengan kendala yang dihadapi. Saya seperti menjadi bagian utuh dari karya yang dikembangkannya.

Tahap akhir setelah berkarya adalah menjadi handal dalam bidangnya. Ini membutuhkan persisten yang kuat. Maka  mentor akan selalu menjadi tempat berpikir dalam pemecahan masalah dalam setiap perjalanan. Bukan saja menjadi guide menuju simpang jalan, namun juga selama perjalanan termasuk ketika salah arah dan harus memutar balik di persimpangan depan.

Terakhir menurut saya, dalam membina adik asuh sebenarnya bukan tidak ada guidance tetapi terkadang kita harus menemukan guidance itu sendiri.