Pilar Peradaban Oleh: Titis Pratiknyo

admin June 17, 2019 at 11:04

Peradaban merupakan salah satu lingkar pena kehidupan yang mengandung masa lalu dan masa depan. Kedua unsur tersebut memiliki sejarah yang takkan terlupakan dari masa ke masa. Kenangan yang terbuat dari buaian kandungan Ibunda hingga menuju liang lahat adalah salah satu bukti keterlibatan kita di dalam dunia ini. Namun tak hanya sekedar itu saja, mampu membuat orang lain merasakan kebermanfaatan kita khususnya di masyarakat adalah salat satu bahwa kita mampu menjadi bagian penggerak untuk Indonesia. Agen penggerak ini seringkali disebut dengan tahta aktivis mahasiswa. Gelar tersebut terbentuk dari aktivitas kita yang dilakukan oleh pemuda/i tanpa henti dikalangan masyarakat dan sesama dengan mengedepankan idealisme murni untuk membawa suatu perubahan.

Seiring berjalannya waktu tanpa kita sadari dari kesibukan akan waktunya yang terkuras guna mengabdi untuk kemaslahatan masyarakat, mereka para aktivis seringkali lupa akan bagaimana cara melanjutkan kehidupannya. Melanjutkan kehidupan dan kebermanfaatan yang ada bukan hanya miliki satu orang, namun untuk generasi selanjutnya. Generasi selanjutnya adalah kunci dimana salah satu keberhasilan dari seorang aktivis memberikan kebermanfaatan yang besar. Bukan hanya satu faktor keberhasilan seorang aktivis yang mampu terlihat dari regerberasi, namun juga dari sifat memimpin diri juga orang lain, tidak munafik, bukan hanya mencari obsesi kepopuleran, dan yang terpenting adalah mau merawat Indonesia menjadi lebih baik.

Semua hal tersebut terangkum menjadi 4 nilai aktivis dimana Integritas, Cendekia, Transformatif, dan juga Melayani. Nilai – nilai tersebut sangat lah menjadi hal yang penting bukan untuk aktivis masa kini hingga di masa depan? Jikalau bukan kita yang memberitahu perihal 4 nilai tersebut siapa lagi? Banyak sekali ramalan dimana Bangsa Indonesia akan mencapai puncak kejayaannya di 2045 dengan bonus demografi yang melimpah, maka 20 tahun dari sekarang akan menentukan pilihan serta jalan arah bangsa ini untuk mencapai kejayaannya. Maka apa yang harus dilakukan? Bukankah banyak juga aktivis yang memiliki kemunafikan yang tersebar? Maka akan sampai kapan kita terdiam tak bergerak hanya untuk mempersiapkan generasi selanjutnya yang berkualitas?

Maka di tulisan ini lah akan dikupas mengenai bagaimana mencari, membimbing, memberikan, dan meningkatkan ilmu terbaik kita selaku aktivis untuk melahirkan aktivis – aktivis lainnya yang bercermin dari kebaikan diri kita sendiri tanpa mementingkan suatu golongan dan murni untuk masyarakat.

Bidang yang digeluti oleh masing – masing aktivis memanglah berbeda – beda baik itu dari eksekutif, sosial lingkungan, akademisi prestatif, simpatisan, dan juga legislatif. Dari semua bidang tersebut mampu mewakili ergerakan yang ada di Indonesia. pergerakan tersebut nantinya akan diisi oleh gerenasi yang baru untuk melanjutkan beban di pundak mereka masing – masing. Bangsa Indonesia memanglah belum sempurna, dari ketidaksempurnaan tersebut mampu lah muncul rasa keresahan dan kesadaran tertinggi untuk membawa perubahan yang lebih baik.

Sehingga perubahan itu berlabuh ke Bidang Legislatif dimana saat ini perwakilan rakyat baik di daerah, Provinsi, maupun Pusat sudah masuk ke dalam jumlah ribuan orang. Ribuan orang yang menduduki kursi panas tersbeut memiliki kepentingan masing – masing, ada yang berbuat jahat maupun baik terhadap apa yang ia bawa untuk kepentingan masyarakat. Oleh karena itu sangat penting mengarahkan sejak dini terutama selagi di perhelatan kampus dalam regenerasi aktivis legislatif untuk siap menyongsong 20 tahun ke depan.

Terus melaju ke depan dari tingkat awal hingga tingkat akhir di bidang Legislatif merangkak dari anak tangga terbawah hingga anak tangga teratas membuat diri ini merasakan butuh penerus yang mampu meneruskan kebaikan semua ini. Awalnya dikira tersesat di jalan yang salah karena sempat tertolak menggeluti bidang Eksekutif, namun tersadar di pertengahan jalan bahwa diri ini sudah tersesat ke dalam jalan yang benar. Untuk mencari generasi penerus yang biasanya disebut dengan adik asuh adalah hal yang gampang susah. Terutama mencari yang berminat di bidang legislatif memiliki peluang yang besar untuk memberikan kebermanfaatan namun tak banyak yang ingin menggelutinya. Berbeda dengan bidang lainnya tanpa dicari pun mereka sudah berbondong – bondong untuk mendaftarkan diri dan kita sudah memiliki banyak calon adik asuh dari beberapa layer mata memandang.

Menginspirasi untuk diri sendiri maupun orang lain bukan lah hal yang mudajh. Hal ini adalah salah satu modal dasar yang kita butuhkan untuk mencari adik asuh yang mampu kita jadikan sebagai penerus kita selanjtnya. Kata menginpirasi bukanlah hal yang sulit, tinggal bagaimana diri kalian mampu mengetahui kelebihan kalian apa sih? Apa yang bisa kalian perbuat agar mereka nyaman dengan dirimu? Dan apa yang bisa kalian transfer ke penerus selanjutnya? Bukan secara material lho, tetapi secara ilmu dan moral yang kita dapatkan selama ini.

Semua hal tersebut bukan seakan kita menjadi guru, namun kita sebagai seorang kakak yang sudah terlebih dahulu menelan rasa pahit dan sakitnya menerpa badai kegiatan yang sudah lalu lalang di kehidupan kampus maupun pasca kampus jika sudah menerimanya. Tentunya pada tingkat pertama kita sibuk untuk mencari jati diri kita sebagai mahasiswa, mencari jalan yang sesuai untuk kedepannya mampu memberikan inspirasi bagi orang lain. Apakah sudah onthe track? Hal itu bisa dilihat bagaimana cara kita menyukai bidang tersebut utnuk kita geluti, semakin kita senang meski banyak rintangan maka percayalah itu adalah hal yang terbaik nantinya yang akan kita tuang di kemudian hari.

Tentunya di tingkat pertama ini pun saya masih beranjak utuk menaiki tangga yang cukup panjang, masih mengikuti dan mengenali apa yang saya sukai, dan diakhir tingkat pertama ini saya merasakan bahwa ketertarikan saya melalui pergerakan mahasiswa khususnya menjadi anggota Dewan Legislatif Kampus di Institut Pertanian Bogor. Satu tahun pun tak berasa, belum cukup banyak track record yang saya torehkan selama di tingkat pertama, namun di tingkat dua saya memberanikan diri untuk tetap istiqomah menggeluti bidang yang sama. Dikarenakan dulunya di tingkat pertama sudah memiliki pengalaman, akhirnya di tingkat kedua amanah saya pun meningkat khususnya menjadi Ketua Komisi Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa.

Tak mampu dipungkiri besarnya amanah mapu mendorong kita agar mampu lebih resah dibandingkan orang lain. Resah untuk memperjuangkan hak orang lain dari sisi lain dunia yang berbeda, dari sisi orang lain yang selama ini tak dianggap. Akhirnya inovasi pun lahir dibalik kepemimpinan saya ini menuju satu aspirasi serta advokasi yang menyatukan mahasiswa, dan tak hanya itu di tingkat kedua ini saya pun mendapat amanah yang cukup banyak selain ini yaitu menjadi Ketua Kelas, Wakil Ketua Masa Orientasi Kampus di Fakultas serta juga di kampus. Wahana ini lah yang membuat saya berpikir kenapa tidak saya mencari teman seperjuangan meskipun hanya adik kelas yang akan meneruskan saya nantinya? Oleh karena niat baik itu lah saya mampu memanfaatkan wahana kaderisasi ini untuk mencari bibit terbaik dalam mengelola Organisasi Kampus agar bisa lebih baik dari sebelumnya.

Modal diri pun harus ditingkatkan dari bagaimana cara berbicara di depan publik, meyakinkan, memberikan motivasi, itu semua tumbuh secara sengaja akibat aktivitas yang selalu bercampur tangan dengan mahasiswa banyak serta masyarakat sekitar kampus dengan kegiatan – kegiatan yang saya ikuti sampai saat ini. Berawal dari memberikan presentasi tentang Ormawa Legislatif di Masa Orientasi Kampus saya pun mencoba melirik beberapa angkatan baru yang masih lugu, mencari kesibukan, mau ikut organisasi apa, dan juga tentunya mereka memerlukan tempat berteduh yaitu keluarga di Kampus setelah melakukan kegiatan akademik yang menguras hati dan jiwa mereka.

Sampai lah terhadap pendaftaran Organisasi Legislatif Mahasiswa saat itu saya sudah mendapatkan beberapa calon hanya dua orang saja yang bisa saya yakini mereka bisa meneruskan perjuangan saya. Yang satu laki – laki dan satu lagi perempuan. Keduanya berbeda dimana yang satu sudah mumpuni secara dasar kepemimpinan tinggal diasah kembali, dan satunya lagi yang perempuan masih minim sekali dan cenderung malu – malu dan takut untuk berekspresi. Hal yang saya tanamkan pada saat proses pendaftaran dan pencarian kaderisasi adalah “Bidang legislatif adalah salah stau bidang yang sangat jarang sekali diminati oleh mahasiswa. Namun bidang ini adalah penentu segala hal nantinya di masa depan kalian kelak. Cerminan masa depan kalian 20 tahun ke depan akan menjadi cerminan dari generasi penerus bangsa yang saat ini masih mencari jati diri di masing – maisng kampus. Namun percaya lah di seluruh Indonesia dalam hal Bidang Legislatif Kampus Tercinta ini takkan kalah dan bisa dibilang akna menjadi nomor satu diantara seluruh Universitas yang ada di Indonesia. maka bergabunglah dan perjuangkanlah keresahan generasi saat ini dan generasi yag akan datang, beban masa depan akan dipikul pada pundak kalian. Jikalau pundak kalian masihlah kecil dan lemah tak mau memperjuangkannya, maka niscaya lah kalian salah stau penyumbang terbesar kegagalan Indonesia tak mampu memasuki masa kejayaannya. Bukan hanya mencari tempat berteduh yang asyik, nyaman, dan sepi. Namun kita bersama membentuk kekeluargaan yang harmonis, untuk memperjuangkan hak – hak mahasiswa yang masih belum optimal di Kampus tercinta yaang kita pijaki ini. Tak usah takut jikalau kalian tak mampu menyeimbangi antara akademik dan organisasi, pekerjaan ini memang tidak menguras waktu, namun ketahuilah orang yang mampu bijaksana dalam menggunakan waktunya akan memperoleh kenikmatan yang tiada tara dari Yang Maha Kuasa”.

Memotivasi adalah hal ketiga yang sangat sulit bagi orang yang tidak mampu memotivasi orang lain. Salah sedikit saja kita mengatur alur, maka tak sejalanlah pikiran mereka terbawa oleh lantunan kata – kata kita menuju satu pintu keluar untuk menemukan salah satu titik terang yang ada. Perjalanan pun berlanjut dan saya sangat beryukur kepada Allah SWT masih diberikan kesempatan menduduki dan menyuarakan mahasiswa di bidang legislatif untuk menjadi ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa FPIK IPB, dan tentunya dibersamai dengan adik kader saya yang saat ini baru hanya 2 orang saja beserta calon keluarag Sekretariat DPM FPIK IPB yang akan menjalankan sistem pemerintahan kampus selama satu tahun ke depan.

Tak berhenti disini saja saya memberikan inspirasi untuk orang lain, saya pun berpikir? Apakah cukup dua orang ini meneruskan langkah kaki saya? Meskipun metode pemberian pencerdasan dimulai pada saat mereka menjabat nantinya sesudah saya berikan ke mereka amanah yang cukup besar yaitu sebagai ketua komisi dan sekretaris komisi Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa. Kenapa komisi itu lagi? Karena hanya komisi ini lah kita mampu mendapatkan akses seluas – luasnya bertatap muka dengan Mahasiswa dan mengetahui keluhan mahasiswa untuk memperoleh suatu soslusi dalam memperjuangkan perubahan yang lebih baik.

Tak mengurangi rasa hormat mereka terhadap saya secara formal, si laki – laki bernama Khoerul Fatoni siap mengemban amanah tersebut. Namun si perempuan yang bernama Astrid Widya Tamara sempat menolak karena merasa tidak mampu. Oleh karena itu saya mengambil tindakan untuk mengobrol intens dengan mereka berdua sepulang kuliah sembaring bercengkarama makan malam di sekitar kampus.

Dengan baik saya meyakinkan bahwa wahana ini lah yang mampu membuat mereka bisa meningkatkan kapasitas dan kapabilitas mereka sebagai mahasiswa, bukan hanya bagus secara akademik namun juga secara organisasi harus seimbang. Karena tingkat sarjana hanya sekali seumur hidup, maka gunakan sebaik mungkin agar kelak tak menyesali sedikitpun. Akhirnya dia pun menerima tentu dengan bimbingan saya selaku kakak mereka. Kekeluargaan yang saya bangun membuat saya memposisikan saya sendiri sebagai Ayah mereka dalam organisasi tersbeut, melihat banyaknya potensi yang ada dari generasi penerus, saya pun memposisikan diri saya sendiri untuk dipanggil ayah/bapak di DPM FPIK. Suatu hari saya berpikir bahwa hal ini takkan cukup membawa mereka ke jenjang berikutnya, maka saya sembaring mengurusi keluarga baru saya di kampus sebanyak 21 orang baik itu yang sebaya maupun yang masih adik kelas, saya pun melanjutkan untuk memperbaiki diri dan membuat saya mampu menjadi Inspirasi untuk orang lain.

Pondasi sudah terbentuk meski masih minim, namun itulah pondasi rumah generasi yang say amiliki hingga kelak kita akan menambah beberapa aset dan juga kegiatan yang mampu membuat rumah itu semakin besar. Proses selanjutnya setelah mendapatkan bibit genriasi selanjutnya adalah proses monitoring atau mentoring anak – anak/ adik asuh yang saat ini saya miliki. Tak saya sadari semakin bertambahnya sepak terjang saya khususnya di Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa dengan keunikan yang khas dari diri saya dalam menyampaikan materi kelegislatifan, dan juga hal lainnya yang positif tentunya membuat mereka semakin tertarik dan juga ingin berprestasi di bidang organisasi bagi mereka yang lemah di bidang akademik.

Setiap minggunya saya mengadakan forum tersendiri dengan mereka yang masih dibawah tingkat dengan saya. Mentoring pegembangan organisasi, akademik, dan juga kehidupan sehari – hari dikupas dalam forum tersebut. Sampai saat ini saya sudah memiliki adik asuh sebanyak 8 orang, dimana memiliki karakteristik yang berbeda – beda tentunya.

Mereka lah yang saya harapkan menjadi penerus saya kelak nantinya. Setiap weekend seusai mereka melakukan kegiatan kuliah/ praktikum kami memulai kegoatan mentoring keluarga dengan senang sembaring membicarakan program apa yang akan kami jalankan. Tentunya membawa camilan, dan juga hal – hal yang mereka sukai adalah salah satu metode untuk menarik perhatian mereka. Tidak dapat dipungkiri bahwa logika takkan berjalan tanpa adanya logistik yang mereka gunakna sebagai asupan untuk tubuh mereka. Perhatian, ingin tahu, dan juga rasa saling menjaga saya tanamkan di dalam diri saya terhadap mereka agar keterbukaan mereka terhadap saya bisa berjalan dengan lancar serta pemberian solusi yang tepat guna dari permasalahan yang mereka hadapi.

Sesampai di penghujung kepengurusan pun saya masih sibuk mengurusi beberap adik asuh saya dengan metode yang dikombinasikan seperti kunjungan ke beberapa taman bermain sembaring memasukkan materi tentang organisasi, serta meningkatkan kapasitas mereka melalui kunjungan – kunjungan tokoh di gedung DPR MPR RI. Ya secara bidang legislatif, taraf tertiggi meningkatkan insight mereka adalah dibawa menuju role model masa kini yang berjalan secara nyata.

Diri ini terus berkembang dan berproses menjadi pribadi yang ingin semakin menjadi lebih baik untuk menjadi panutan mereka yaitu adik – adik asuh saya. Sepak terjang saya di bidang legislatif semakin meningkat kesana kemari hanya untuk berbagi ilmu kelegislatifan saya terutama sesudah saya memasuki tingkat 4 masih tetap istiqomah bergerak di bidang legislatif. Begitu pun dengan beberapa adik asuh yang dahulu di Fakultas secara eskalasi sebanyak 80% melanjutkan estafet kepemimpinan yang sudah saya berikan. Dua adik asuh kebanggaan saya ini menjadi Ketua DPM dan juga sekretaris DPM, tentunya diiringi dengan adik asuh saya lainnya menjadi bendahara DPM dan juga masing – masing memimpin di komisi yang ada.

Sembari saya melanjutkan amanah ditingkat pusat dan juga FL2MI Pusat Se Indonesia saya pun merekrut dan mencari adik asuh lainnya dari fakultas lain. Untuk merekrut adik asuh dalam kondisi sekarang memiiki langkah yang berbeda dimana pencarian target dieskalasikan untuk menemani saya mengikuti event FL2MI di beberapa belahan wilayah di Indonesia. Antusiasme serta keseriusan mereka saya nilai apakah mereka bisa meneruskan estafet kepemimpinan saya? Sudah beberapa orang yang saja ajak berkeliling Indonesia baik dari Sumatera hingga pulau Sulawesi sudah terkumpul sebanyak 8 orang yang hingga kini total keseluruhan adik asuh saya sebanyak 16 orang.

Untuk tipe pembinaan 8 orang yang saya dapatkan dari didikan disaat saya berada di FL2MI adalah bagaimana cara mereka menghadapi pertarungan di dunia legislatif seluruh kampus di Indonesia melalui banyaknya rintangan yang ada. Menjadi leader dari pemecahan masalah – masalah yang ada adalah salah satu indikator awal mereka mampu melewati tahap tersebut. Sedangkan 8 orang lainnya berada di Fakultas untuk tetap memperjuangkan mahasiswa FPIK IPB.

Sampai saat ini mereka semua masih dalam tanggung jawab diri ini baik menjadi seorang bapak ataupun kakak yang dirindukan oleh mereka semua. Menjadi orng yang dirindukan bukan berarti menjadi orang yang dibicarakan atas prestasinya di luar sana. Membanggakan untuk adik asuh sendiri bukan seberapa banyak kita menorehkan prestasi di luar sana. Namun memanggakan bagi generasi selanjutnya adalah bagaimana kita memiliki sifat yang menyenangkan untuk orang lain, membuat orang nyaman terhadap diri kita, membuat mereka tahu dan mengerti apa yang saat ini sedang mereka perjuangakn bersama dengan kita, dn menjaga kekeluargaan dianatar adik dan kakak meski bukan terlahir dari kandungan yang sama.

Kembali lagi menjadi semua hal tersbeut memanglah memiliki pengrobanan yang besar, tidak bisa kita menginginkan hal yang sempurna untuk generasi yang mau meneruskan jejak kita, hanya cukup modal utama yaitu integritas, cendekia, transformatif, dan juga melayani. Yakin dan percaya bahwa semua yang ada disekitar kita memiliki rasa, sehingga kita pun juga akan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain yang memiliki kehidupan rasa yang sama.