Tak Ada Paksaan Oleh: M Shalahuddin Al-ayyubi

admin June 17, 2019 at 10:55

Cerita tentang mengelola adik asuh saya bermula ketika diawal saya memasuki dunia kampus. Sejatinya mereka lebih tepat disebut dengan ‘teman’ ketimbang adik asuh, sebab dari mereka saya tidak hanya belajar memaknai dan mengambil hikmah namun juga karena kami rata-rata sebaya dan seumuran. Jadi istilah teman menurut saya lebih tepat disematkan kepada mereka.

Mereka yang saya sebutkan diatas adalah teman-teman se angkatan kuliah saya, berasal dari latar belakang yang beragam. Perkenalan kami bermula dari hubungan pertemanan pada umumnya. Tidak melulu harus melalui fase perekrutan formal layaknya ‘adik-adik asuh yang lain’. Semua terjadi secara natural. Saya yang notabene alumni pondok pesantren sering menjadi sasaran pertanyaan-pertanyaan teman-teman yang ingin belajar Islam lebih mendalam. Meskipun saya sadari keilmuan saya jauh dari kata mumpuni. Namun saya berusaha semaksimal mungkin mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan berusaha memuaskan dahaga rasa penasaran mereka tentunya dengan menjadi pendengar setia.

Saya faham betul bahkan hingga saat ini banyak orang yang beranggapan bahwa alumni pesantren sudah barang tentu menguasai segala hal tentang ke-Islaman karena memang sudah selayaknya sebagai seorang santri. Padahal begitu banyak cabang ilmu dalam Islam itu sendiri mulai dari Balaghah, Nahwu Sharraf, Ushul Fiqh, Hadits, Tajwid sampai ke Tafsir serta masih banyak yang lainnya yang saya sendiri tidak advance dalam kesemua bidang ilmu tersebut. Saya sudah kadung dicap sebagai ahli, ada tanggung jawab keilmuan akan ke’santrian’ saya. Dan saya malu karena tidak menguasainya secara mendalam. Siapa bilang alumni pesantren cuma bisa ceramah dan ngaji doang, saya malah ga bisa dua-duanya…hehe. Saya katakan pada teman-teman sejujurnya akan hal tersebut, namun jika mereka ingin belajar membaca Al-Qur’an secara baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid yang saya ketahui, secetek ilmu yang saya miliki insyaallah saya siap untuk mendampingi mereka menjadi lebih baik.

Beragam memang motif teman-teman untuk belajar, mulai dari alasan malu karena sudah besar namun ga bisa baca Al-Qur’an hingga yang sedang kasmaran dan ingin memperbaiki diri. Saya kerap kali bilang kepada teman-teman saya, apapun motif kalian… saya turut berbahagia karena terbesit di hati mereka usaha untuk memeperbaiki diri. Bahwa banyak kiyai-kiyai yang jauh lebih tinggi pemahaman agamanya dibandingkan saya (yang tidak ada apa-apanya) dan menanyakan kenapa mereka tidak berguru kepada mereka secara langsung saja. Satu kata yang dapat saya simpulkan, mereka sungkan.

Betul selama ini mereka di lingkungan kampus sering dicap sebagai “brandal”, maniak game online, anak-anak pecinta alam yang hobi nya nongkrong main gaple gitaran hingga larut malam dan paginya terlambat bangun sehingga terpaksa titip absen. Potongan celana jeans dengan sobekan menganga di lutut adalah style mereka. Hingga rambut gondrong yang mungkin hanya dikeramas setahun sekali. Yang menyakitkan ketika pandangan sinis dan nyinyiran sering kali dialamatkan kepada mereka. Mereka sudah kadung mendapatkan “cap” tersebut. Musholah dan sekitarnya begitu ekslusif bagi mereka. Namun saya menemukan sisi kelembutan hati pada diri mereka, alhamdulillah Allah izinkan saya bisa menyentuh sisi tesebut.

Hal yang paling mengetuk hati saya adalah pada suatu kesempatan saya mengajak salah seorang teman untuk sholat berjama’ah. Namun beliau menolak secara halus “kamu duluan saja”, ungkapnya. Saya dengan nada gurau iseng bertanya, Lha kenapa ga mau ikutan sholat berjama’ah bareng? Dengan simpel nya dia menjawab, “Aku malu ga bisa ngaji (baca Al-Qur’an)”. Hati saya Jleb, tertohok. Ternyata akar permasalahan teman-teman saya enggan tersebut adalah karena hal sepele seperti ini. Kemudian apa yang telah saya lakukan untuk turut menyelesaikan permasalahan mereka? Pantas saja mereka begitu. Toh semua bacaan sholat yang kita baca adalah lantunan Al-qur’an. Lantas kalo mereka ga bisa baca Al-Qur’an bagaimana mereka mau melaksanakan ritual sholat, saya bergumam. Sejak saat itulah saya membulatkan tekad untuk membantu mereka, setidaknya selama masa perkuliahan ini mereka bisa lulus iqro’ dan mampu membaca Al-Qur’an meskipun terbata.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana saya bisa menyentuh sisi lembut pada hati mereka? Pertama, Saya sama sekali tidak pernah memaksa. Baginda Muhammad adalah contoh dan teladan bagi sahabat-sahabatnya. Inilah senjata yang paling ampuh. Mereka dengan sendirinya akan mendekat. Kedua, cari dan temukan kesamaan. Hal  itu dapat berupa hobi, kegemaran atau sebagainya. Tidak harus serupa. Hempaskan semua barrier perbedaan yang ada. Jadilah inklusif menempatkan diri dan menggunakan sudut pandang orang lain dalam memahami masalah.