Ikuti Langkah ini Supaya Menulis Lebih Asyik

admin September 30, 2019 at 0:52

 

Menulis adalah menuangkan gagasan, pikiran dan ide ke dalam sebuah tulisan. Banyak orang sebenarnya memiliki gagasan dan keinginan untuk menulis, namun terasa sulit ketika hendak menuangkan ke dalam tulisan. Banyak orang yang mengatakan menulis itu membutuhkan talenta. Ada lagi yang mengatakan bahwa menulis itu diperuntukkan bagi orang yang berpendidikan atau setidaknya telah mengenyam perguruan tinggi. Pernyataan ini mungkin wajar mengingat mahasiswa sudah terlalu kenyang disuguhi tugas membuat karya tulis ilmiah, tugas akhir skripsi, tesis maupun disertasi. Melalui karya tulis, mahasiswa belajar mengemas hasil penelitiannya untuk kemudian dapat dipublikasikan. Tentunya hal ini mengajarkan mahasiswa untuk menyusun sebuah karya tulis secara logis dan sistematis.

Menulis sebenarnya tidak mesti memiliki latar belakang perguruan tinggi. Kalau kita sadari, sejak bangku sekolah dasar kita sudah diajarkan untuk mengarang, Faktanya, tidak sedikit penulis terkenal yang mampu menghasilkan karya dalam usia yang sangat muda. Sebut saja Nadia Shafianarahma, gadis cilik kelahiran Yogyakarta tahun 2004 memilih terjun ke dunia sastra sejak masih duduk di bangku kelas 1 SD. Nadia berhasil mendapatkan penghargaan bergengsi di dunia internasional pada tahun 2015 silam. Sungguh prestasi yang sangat membanggakan, bahkan di usianya yang masih belia yakni 11 tahun.

Secara umum, menulis bukanlah pekerjaan yang harus memiliki pendidikan khusus. Tidak perlu embel-embel lulusan perguruan tinggi untuk bisa menulis. Meskipun demikian bukan berarti menulis itu tidak ada teorinya. Ada tekniknya. Makanya banyak sekali kursus atau kelas menulis yang mengajarkan kiat-kiat dan teknik menulis; ataupun komunitas penulis yang saling berbagi pengalaman menulisnya. Intinya menulis itu merupakan ilmu yang bisa dipelajari. Menulis itu adalah talent learned, bakat yang bisa dipelajari. Pilihan kata learned disini sama dengan istilah lifelong learning artinya belajar sepanjang hayat, seumur hidup tidak ada batasnya. Inilah kenyataannya.

Sayangnya masih banyak orang yang berpikir bahwa menulis itu merupakan pekerjaan yang sulit. Padahal menulis itu ibarat bernafas, salah satu jargon yang melekat pada penulis terkenal Cahyadi Takariawan lewat tulisannya “Agar menulis semudah bernafas” (Cahyadi, 2017). Bernafas merupakan suatu proses menghirup oksigen dari udara bebas (inspirasi) dan mengeluarkan karbondioksida dari dalam tubuh (ekspirasi). Dalam ilmu kedokteran, secara normal bayi yang baru lahir akan bernafas 40-60 kali/menit sementara orang dewasa mempunyai frekuensi bernafas 12-20 kali/menit. Pertanyaan apakah seorang bayi yang baru lahir “berpikir” untuk bernafas? Dalam keadaan normal, usaha bernafas hanya memerlukan 3% dari pemakaian energi total. Dengan kata lain, bernafas bisa dikatakan effortless.

Bernafas itu mudah karena kita tidak perlu berpikir untuk bernafas. Seperti bernafas, menulis akan menjadi sulit kalau kita mulai berpikir. Misalnya terbersit dalam hati apakah tulisan saya sudah bagus atau pilihan kosa kata sudah tepat? Menulis adalah menuangkan pemikiran kita bak mengalir seperti air. Menulis itu tidak ada urusannya dengan kualitas tulisan. Kita sering kali mencampur-adukan tugas menulis dengan mengedit (menyunting). Mengedit adalah pekerjaan yang sulit karena perlu berpikir, kehati-hatian, dan ketelitian sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mengedit lebih lama daripada menulis. Mengapa? Ada banyak sekali yang harus diedit mulai dari substansi (isi), gaya bahasa, kosa kata, paragraf, sistematika, tanda baca, dll Jadi mengedit jelas membutuhkan keahlian khusus selain kecermatan dan kesabaran. Makanya penulis dan editor adalah dua profesi yang berbeda. Seorang editor berperan untuk memastikan hanya tulisan berkualitas yang layak untuk diterbitkan.

Jadi jika kita menulis sembari mengedit maka kita akan lama menyelesaikan tulisan kita karena akan mudah lelah. Bahkan mengedit dapat menganggu proses penulisan. Tulisan tidak akan selesai tepat pada waktunya karena kita kehabisan ide dan tenaga. Jadi agar menulis itu dianggap semudah bernafas maka kita harus memisahkan antara pekerjaan menulis dan mengedit. Berkonsentrasilah hanya untuk menulis, tidak perlu berpikir dan cukup tuliskan secara alami. Biarkan kesulitan itu terkumpul dan bertumpu pada proses editing selanjutnya. (Dikutip dari website warstek.com)

Daftar Pustaka: