L’etat Cest Moi!” Na’as!

admin March 20, 2020 at 0:06

Jika mengingat masa lalu, kita akan menemui Louis XIV yang mendaku “L’etat cest moi!”. Na’as! “Negara adalah saya”, tuturnya! Semua di negara itu, bahkan kebenarannya adalah milik si raja satu ini, berdasarkan nafsunya, seiya sekata dengan ucapan dan titahnya! Maka, mana mau keadilan bersemayam jika yang benar adalah kehendak Louis, bukan pada kebenaran yang sebenarnya.

 

Sama halnya dengan ketika sejarah menceritakan Fir’aun Mesir. Ia menuhankan diri. Maka kebenaran mutlak di mulutnya. Bantahan adalah kemurtadan, dan mati adalah balasannya. Ia perintahkan budaknya membangun piramida sebagai bangunan yang tinggi, untuk kemudian dengan sombong ingin melihat di mana Tuhan Musa. Tuhan pun ditanya kebenarannya! Membunuh semua bayi laki – laki yang baru lahir adalah kebenaran di Mesir kala itu, karena titah itu keluar dari mulut Fir’aun. Tak peduli tangis ibu yang baru saja melahirkan bayinya. Maka, ia tenggelam, bersama kebenaran yang ia kuasai. Dan jasadnya diawetkan melalui lautan. Untuk kemudian ditemukan dan dijadikan pelajaran, bahwa kebenaran pernah dikuasai oleh jasad itu.

 

Atau yang selama ini diprotes oleh Karl Marx. Ketika pemilik kapital, penguasa sumber daya, para borjuis berkuasa atas hajat para buruhnya. Maka kebenaran ada pada mereka. Dan si miskin proletar diminta berharga murah, agar supaya keuntungan dapat setinggi – tinggnya. Lantas dibuatlah oleh borjuis dogma kebenaran, si miskin dibiarkan bodoh karena mereka hanyalah alat produksi. Maka, Marx menawarkan revolusi untuk merebut penguasaan atas kebenaran. Agar kebenaran berada di tangan proletar, dan kesama-rataan menjadi jalan melaksanakan kebenaran baru.

 

Dan begitu pulalah cara kerja kolonial Belanda. Ketika kebenaran hanya ada di mulut kaum Eropa, sementara pribumi, irlander tak berkuasa sedikitpun. Jadilah kerja rodi adalah kebenaran, karena ia berstempel penguasa dari Eropa. Juga pada tanam paksa, jadilah itu kebenaran, karena urusan Belanda ada di atasnya. Dan pribumi, pemilik sah tanah dan air Nusantara harus mendekam di kasta terendah, bahkan dibawah kaum timur asing dari Tiongkok.

 

Sementara itu, demokrasi…
Namun, jangan sangka, demokrasi yang kita puja ini, yang menawarkan kebenaran dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, dapat menunjukkan bahwa yang benar adalah benar. Mari simak apa yang dikatakan oleh penguasa Amerika Serikat, hamba demokrasi yang paling taat. “You are either with us, or against us …” ucap George W. Bush dalam ungkapannya melawan terorisme. Ia mendaku kebenaran. Bahwa siapapun yang tidak bersama Amerika adalah musuh!

 

Maka jadilah kebenaran tentang ciri teroris adalah seusai dogma Amerika: seorang Islam, berwajah Timur Tengah, bernama depan Muhammad atau sahabatnya. Jika yang seperti ciri diatas melakukan teror, maka jadilah itu terorisme, jika bukan, maka jadilah itu tindak kriminal biasa. Ajaib! Bahkan Ia lupa bahwa negerinya telah menciptakan teror itu sendiri di Irak, Afghanistan atau di negeri timur tengah lainnya. Memisahkan ibu dengan anak – anaknya, membunuh para bapaknya. Semua itu karena kebenaran yang mereka tawarkan kepada dunia.

 

Di alam demokrasi pula, Soekarno mendakwakan dirinya menjadi Presiden seumur hidup. Hampir – hampir beliau menguasai kebenaran. Ulama sekelas Buya Hamka dipenjarakan karena kritiknya. Dibentuklah kebenaran baru bernama Nasakom. Namun, penguasaan atas kebenaran ini dihentikan oleh penguasa kebenaran lain. Soekarno wafat, dengan malah meminta Buya Hamka yang mengimami sholat jenazahnya. Lalu muncullah Soeharto, yang menyatakan kebenaran bahwa PKI harus dibasmi sampai ke akar rumputnya, sampai ke anak cucunya.

 

Maka jadilah yang tak bersalah jadi bersalah. Karena kebenaran dikuasai oleh rezim. Jadilah rezim menyatakan kebenaran mereka dengan propaganda film G30S/PKI tiap tahunnya.
Dan benarlah, bahwa demokrasi adalah maha fitnah. Karena kebenaran diserahkan kepada kepala – kepala manusia. Diserahkan kepada suara mayoritas. Diserahkan kebenaran pembuatan hukum kepada legislator korup yang dipilih dari sistem demokratis-transaksional di kotak suara. Maka, jadilah di Barat sana, para wanita yang memperjuangkan kebenaran mereka dengan ketelanjangan di jalanan.

 

Moral dan agama adalah urusan individu, negara tak boleh ikut campur, dengan ini moral dan agama individu semakin bobrok, sementara demokrasi menisbahkan kebenaran malah kepada individu bobrok moral itu. Maka jadilah pornografi itu seni, dan seks adalah bukti cinta. Dan demokrasi akhirnya memfitnah agama adalah penghambat kemajuan, kuno, konservatif, kolot! Seakan – akan ia adalah antitesa dari demokrasi. Dan kebenaran dibentuk tanpa arah, jadilah agama ditinggalkan, bahkan dicaci oleh pemeluknya sendiri.
Dan benarlah, bahwa fitnah demokrasi dengan kebebasannya telah melenakan dan melupakan. Maka, tepatlah saran Victor E. Frankl, “Saya menyarankan agar patung Liberty yang ada di pantai timur Amerika, diimbangi dengan pembangunan patung Responsibility di pantai barat Amerika”. Tepat!

 

Kini, di Indonesia yang demokratis…
Kekuasaan, di setiap masa dan tempat, tak terkecuali Indonesia, selalu tergoda untuk berkuasa pula atas kebenaran. Coba tilik Indonesia kini. Di satu sisi, ada rezim yang mulai mendaku kebenaran. Lihat bagaimana negara mulai mendaku kebenaran dengan menangkap banyak orang dengan tuduhan makar, tuduhan mempersoalkan kebenaran negara. Atau bagaimana negara menyatakan bahwa membangun pabrik semen yang membunuh ekosistem alam dan sistem sosial rakyat adalah kebenaran. Coba lihat bagaimana negara menyatakan bahwa reklamasi untuk kepentingan pemodal adalah lebih benar daripada kepentingan nelayan kecil yang mencoba menjaring ikannya.

 

Kebenaran pun mulai dikuasai, dengan perangkat – perangkat khas tiran. Kebenaran dikuasai melalui aparat penegak hukum yang mengarahkan pistolnya pada rakyat yang membayar pajak untuk menggaji mereka, menafkahi keluarga mereka. Melalui didiamkannya segala tuduhan kepada orang yang tak bersalah sehingga akhirnya dipenjara, dan dibiarkannya orang yang bersalah bebas berkeliaran kemana – mana. Melalui ditolaknya si jelata masuk ke istana yang ia ikut memilikinya, sementara orang kaya diminta untuk bertamu, dan ditawarkan apa pintanya. Kebenaran pun dikuasai melalui terus ditipunya pemuda – pemuda dengan idealismenya.
Negara pun terus mengkokohkan kebenaran miliknya. Melalui citra yang berujung pengkultusan pribadi para penguasa. Hingga berkata orang – orang, “Presiden itu tak mungkin salah, lihat, ia merakyat!” atau ungkapan “Gubernur itu pasti benar, tak masalah Ia kasar dan menciptakan rekor menggusur!” dan juga ujaran, “Walikota itu mustahil buruk, lihat, Ia membuat taman dan memperindah jalan!”.Sementara, laparnya para ibu yang menahan tangis lapar anaknya di sudut kota bukanlah kebenaran. Petani yang dipukuli meminta tanahnya bukanlah kebenaran. Nelayan yang kehilangan lautnya bukanlah kebenaran. Dan buruh yang penghasilan oleh pabriknya cuma cukup membayar hutang bukanlah kebenaran.

 

Akan tetapi di sudut lain, ada perebut kebenaran yang tak punya senjata apa – apa. Apalagi didukung aparat penguasa. Suara mereka kecil, hampir – hampir tak terdengar. Mereka yang terdengar harus dibungkam. Dipukuli. Senjata mereka hanya sebatas pengeras suara. Atau kaki yang telah sakit karena lama dibalut semen. Dan juga kajian akademik milik mahasiswa, yang na’asnya, dibalas dengan data statistik dan fakta kajian berpihak dengan klaim – klaim ala buku “How to Lie with Statistics”. Serta omongan pintar yang sulit dipahami mereka yang tidak diijinkan berpendidikan tinggi oleh penguasa.

 

Para perebut kebenaran ini hanya ingin meminta kebenaran ditempatkan pada tempatnya.
Lantas, apakah demokrasi sepenuhnya salah? Tidak, tidak sepenuhnya salah, tidak! Demokrasi salah akibat para penyembahnya yang menjadikannya maha fitnah. Mereka yang menghamba kepada kebebasan demokrasi tanpa arahan kebenaran yang pasti, dan hukum dicaci maki. Mereka yang dengan kebebasannya dan kekuasaannya menguasai kebenaran, menentukan siapa yang salah. Maka, semua sistem demokrasi maha fitnah ini tak akan dapat mewujudkan suatu masa yang ciamik! Masa ketika seorang imigran bernama Salman Al-Farisi dapat mengkritik penguasanya, Umar, karena kain yang menjadi bagiannya dalam pembagian kain nampak lebih besar dari rakyatnya. Maka, berepot – repotlah Umar untuk mendatangkan anaknya, guna menjelaskan bahwa kain itu besar karena tambahan kain pemberian anaknya. Lihat, masa ketika seorang warga bebas menyatakan kebenaran kepada penguasanya, padahal penguasa itu juga memang benar!

 

Dan, di masa demokrasi yang maha fitnah ini, beruntunglah orang – orang yang masih mempercayai dan mengakui adanya Sang Maha Pencipta. Karena mereka tidak mengalami frustasi yang dirasakan oleh pasukan Soviet di Perang Dunia II. Dalam depresi, pasukan itu bertutur, “Tidak ada bedanya kami mati sebagai patriot pembela negara atau sebagai pecundang yang bersembunyi di kolong ranjang. Karena kami tak punya Tuhan yang akan membalas perbuatan baik kami di kehidupan selanjutnya”. Mereka bimbang menentukan kebenaran dalam semangat nasionalismenya.

 

Dan terutama, beruntunglah mereka yang percaya Sang Pencipta. Karena dari-Nya lah, mereka dapat memohon dalam do’a, “Tunjukilah kepada kami bahwa yang benar adalah benar, sehingga kami dapat mengikutinya. Dan tunjukilah kepada kami bahwa yang salah adalah salah, sehingga kami dapat menjauhinya”.