Aktivitas Diminimalisasi, Lingkungan Lestari

fazar July 14, 2020 at 10:29

Oleh: Thayyibah Nazlatul Ain

 

Manusia adalah makhluk yang paling gila. Mereka memuja Tuhan yang tidak terlihat dan merusak alam yang terlihat tanpa menyadari bahwa alam yang sedang mereka rusak sebenarnya adalah manifestasi Tuhan yang mereka puja.”

-Hubert Reeves,Ahli Astrofisika-

 

Dewasa ini, permasalahan lingkungan sudah menjadi perhatian berbagai pihak. Masalah persampahan, krisis iklim, pencemaran air bahkan kematian berbagai spesies sudah terlihat di depan mata. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memprediksi bahwa pada 2030 terjadi peningkatan temperatur hingga 1,5 derajat Celcius. Angka kenaikan tersebut akan memicu badai angin, panas berkepanjangan, kekeringan bahkan kepunahan massal. Artinya, kita hanya memiliki waktu 10 tahun untuk melakukan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Tidak terkecuali masalah persampahan, berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2019 timbunan sampah yang dihasilkan sebesar 0,7 kg per orang per hari. Angka ini jika diproyeksikan pada 2020 akan mencapai 188,9 ton per hari atau setara dengan 555 buah pesawat terbang. Selain itu, permasalahan keterbatasan air bersih menjadi ancaman karena sebanyak 7.7 miliyar orang di dunia ini memperebutkan ketersediaan air bersih layak yang hanya.

 

0.007 persen di Bumi. Seorang saintis, Peter Gleick dari Pasific Institute memprediksi bahwa pada tahun 2020 sebanyak 135 juta orang di dunia akan meninggal karena kekurangan air bersih (Joe Quirk & Patri Friedman, 2017)

 

Disadari atau tidak, manusia adalah salah satu kontributor utama permasalahan lingkungan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kita membutuhkan sumber daya lingkungan untuk menunjang keberlangsungan hidup. Namun, ketidakbijaksanaan dan keserakahan manusia menjadikan adanya ketidakseimbangan ekosistem sehingga memunculkan berbagai masalah lingkungan. Dalam menangani hal tersebut, dunia meresponnya melalui Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 untuk mengurangi dampak yang dihasilkan dari aktivitas manusia. Konsep ini menekankan bahwa bagaimana aktivitas manusia dapat memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan generasi mendatang.

 

Target SDGs pada 2030 tentu tidak akan tercapai tanpa adanya kesadaran dan kontribusi dari manusia sebagai penikmat alam yang utama. Bisakah manusia menjadi solusi akan permasalahan lingkungan? Bagaimana jika manusia mengurangi akivitasnya untuk mengurangi kerusakan lingkungan?

 

Minimaliasi aktivitas sebenarnya sudah terjadi saat ini, saat musibah pandemi corona terjadi kepada manusia di dunia. Berbagai kebijakan dikeluarkan untuk membatasi dan mengurangi kontak antar manusia. Di Indonesia kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah mulai diterapkan di beberapa daerah. Tidak terkecuali beberapa negara yang sudah terlebih dahulu menegakan kebijakan Lockdown untuk daerahnya.

 

yang menunjukan adanya reduksi pencemaran lingkungan. Berdasarkan data dari

Columbia University menyatakan bahwa terjadi pengurangan Karbon Monoksida (CO)
di New York sebanyak 50 persen dari tahun sebelumnya. Selain itu, di China penggunaan
energi dan emisi menurun hingga 25 persen dan penurunan kadar emisi NO2 dan gas
buang lain sebesar 40 persen, bergitu pula di Madrid Spanyol gas NO2 menurun sebesar
41 – 56 persen. Tidak terkecuali di Indonesia terjadi penurunan PM 2,5 hingga mencapai
AQI di angka rata-rata 60. Penurunan angka pencemaran ini tentu kabar baik bagi
manusia karena dengan peningkatan kualitas lingkungan berbanding lurus kesehatan
fisik dan mental kita sehingga menunjang keberlangsungan makhluk hidup. Hal itu

menjadi bukti bahwa aktivitas manusia sangat mencemari dan tanpa disadari bahwa langkah kecil kita dengan berdiam di rumah ternyata meningkatkan kualitas lingkungan.

Citra satelit Copernicus Sentinel-5P milik ESA (sumber: Kompas.com)

 

Refleksi pada masa pandemi corona ini. Artinya, sebenarnya manusia secara sadar mampu untuk mengurangi aktivitasnya agar dapat mengurangi dampak lingkungan. Bisa kita bayangkan berapa pencemar yang dapat tereduksi dari kebijaksanaan manusia yang turut berkontribusi terhadap lingkungan.

 

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, timbulan sampah tahun 2020 diproyeksikan akan mencapai 188,9 ribu ton/hari. Jika secara sadar manusia mengurangi sampah plastiknya 0,1 kg/orang dengan cara sehari saja tidak jajan di luar dan makan di rumah tentu akan mengurangi sampah sebesar 26,99 ribu ton/hari. Angka ini sama dengan kita mengurangi sampah yang berakhir di laut dan memberikan ruang pada sebanyak 4195 ekor ikan tongkol tanpa plastik di laut.

 

Selain mengurangi timbulan sampah, hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Menurut Badan Pusat Statistik (2018) jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sebanyak 146.858.759 buah dengan rincian 16.440.987 buah mobil penumpang, 2.538.182 buah mobil barang, 2.538.182 buah mobil bis dan 120.101.047 buah sepeda motor. Angka tersebut cenderung meningkat setiap tahunnnya. Jika 50% pengguna sepeda motor dalam sehari mengurangi 5 km aktivitas berkendaranya akan meminimalisasi emisi CO2 sebanyak 75.363 ton/hari. Dengan mengurangi CO2 di udara tentu akan mengurangi efek rumah kaca yang berkontribusi terhadap krisis iklim.

 

 

Krisis iklim juga berhubungan dengan ketersediaan air bersih yang semakin berkurang di bumi. Salah satu langkah yang bisa kita lakukan yaitu dengan tidak membiarkan kran air terbuka. Tanpa disadari air kran yang menetes itu sama dengan membuang air sebanyak 8,64 liter perhari. Angka itu sama saja dengan kita membuang jatah air minum kita sebanyak 4 hari.

 

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk meminimaliasi dampak lingkungan dengan mengurangi aktivitas yang bahkan tanpa kita sadari. Manusia memang tidak bisa terlepas dari alam, begitu pula alam yang membutuhkan tangan manusia untuk mengelolannya. Alam pun akan hancur jika manusia punah dari dunia. Berbagai hewan pelihataan akan mati, bangunan akan runtuh karena tiada kehidupan dan rantai makanan tidak akan lagi teratur.

 

Oleh karena itu, bukan tentang ada atau tidaknya kehadiran manusia di bumi yang akan menjadikan bumi ini lestari. Namun, tentang bagaimana manusia bisa menyadari dan menghilangkan ego diri, mulai berpikir kritis dan bertindak lebih bijak bahwa kelestarian itu tentang keseimbangan ekosistem dan menghilangkah keserakahan.

 

 

Referensi:

Muziansyah, Devianti. Rahayu Sulistyorini. Syukur Sebayang. 2015. Model Emisi Gas Buangan Kendaraan Bermotor Akibat Aktivitas Transportasi (Studi Kasus: Terminal Pasar Bawah Ramayana Koita Bandar Lampung). JRSDD, Edisi Maret 2015, Vol. 3, No. 1, Hal:57 – 70 (ISSN:2303-0011)

Joe Quirk & Patri Friedman. 2017. Seasteading. FreePress

Wallace-Well, David. 2019. Bumi Yang Tak dapat Dihuni. Gramedia

 

 

Sumartiningtyas, Holy Kartika Nurwigati. 2020. Dampak Pandemi Virus Corona pada Lingkungan,                               Polusi Udara Global Turun. Kompas.com.

https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/17/190300123/dampak-pandemi-virus- corona-pada-lingkungan-polusi-udara-global-turun?page=3.